PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN INKUIRI TERBIMBING DAN MOTIVASI BERPRESTASI TERHADAP PRESTASI BELAJAR BIOLOGI SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 RENDANG

NI MADE RUMITHI ., PROF. DR. I WAYAN SANTYASA, M.Si. ., DR. I WAYAN SUKRA WARPALA, S.PD.,M.Sc .

Abstract


Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan pengaruh model pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar biologi. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen menggunakan desain non equivalence pretest-posttest control group designe. Variabel bebas dalam penelitian ini model pembelajaran, yang dipilah menjadi dua level, yaitu model pembelajaran inkuiri terbimbing dan model pembelajaran konvensional. Motivasi berprestasi sebagai variabel moderator, juga dipilah menjadi dua level, yaitu motivasi berprestasi tinggi dan motivasi berprestasi rendah. Sebagai variabel terikat dalam penelitian ini berupa prestasi belajar biologi. Kuisioner motivasi berprestasi digunakan untuk mengukur tingkat motivasi berprestasi siswa, sedangkan tes prestasi belajar biologi digunakan untuk mengukur prestasi belajar biologi siswa. Data dianalisis dengan menggunakan analisis kovarians (ANACOVA) faktorial 2×2 dan dilanjutkan dengan uji Tukey. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Prestasi belajar biologi siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing berbeda secara signifikan dengan siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional. Model inkuiri terbimbing lebih unggul dibandingkan dengan model konvensional. (2) Terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar biologi pada siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi dengan prestasi belajar biologi siswa yang mempunyai motivasi berprestasi rendah. Siswa dengan motivasi berprestasi tinggi lebih unggul dibandingkan dengan siswa motivasi berprestasi rendah. (3) Terdapat pengaruh interaktif yang signifikan antara model pembelajaran dan motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar siswa. Interaksi baik model inkuiri terbimbing maupun model konvensional berinteraksi kuat dengan motivasi berprestasi tinggi terhadap pencapaian prestasi belajar .

I.PENDAHULUAN
Memasuki abad ke 21 Sistem Pendidikan Nasional menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam menyiapkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang mampu bersaing di era global. Salah satu harapan besar bagi negeri ini agar bisa bangkit dari keterpurukan kualitas pendidik dalam semua aspek dan jenjang pendidikan adalah Lembaga pendidikan. Kualitas pendidikan tersebut sangat diperlukan untuk mendukung terciptanya manusia yang cerdas dan terampil agar bisa bersaing secara terbuka di era global.
Dalam era informasi dan globalisasi saat ini persaingan untuk memperoleh kesempatan terbaik dalam berbagai hal, tidak hanya terjadi secara lokal maupun nasional, melainkan juga dalam sekala yang lebih luas dan terbuka hingga menembus batas teritorial negara. Persaingan tersebut sudah tentu berbasis pada SDM yang baik. Dengan demikian upaya untuk meningkatkan mutu SDM Indonesia agar memiliki kemampuan untuk memenangkan berbagai persaingan perlu terus ditumbuh kembangkan. SDM yang diperkirakan mampu memenuhi tantangan di atas yakni mereka yang antara lain memiliki kemampuan berpikir secara kritis, logis, sistematis, dan kreatif sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan secara mandiri dengan penuh rasa percaya diri.
Pembelajaran sains atau IPA pada jenjang pendidikan menengah dalam kaitannya dengan penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) bertujuan agar siswa menguasai kompetensi sains (IPA). Kompetensi merupakan pengetahuan keterampilan dan nilai-nilai dasar yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak. Kebiasaan berpikir dan bertindak secara konsisten dan terus menerus memungkinkan seseorang menjadi kompeten dalam arti memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai dasar untuk melakukan sesuatu. Sains (IPA) sebagai ilmu memiliki dua demensi yaitu sains sebagai produk dan sains sebagai proses.
Tujuan pembelajaran IPA atau sains di sekolah (SMA) adalah untuk memperoleh kompetensi lanjut ilmu pengetahuan dan teknologi serta membudayakan berpikir ilmiah secara kritis, kreatif, dan mandiri sesuai dengan Permendiknas No. 22 Tahun 2006 melalui proses inkuiri ilmiah (BSNP, 2006). Biologi merupakan salah satu cabang ilmu sains mengkaji segala sesuatu tentang makhluk hidup.Kegiatan pembelajaran biologi selain sebagai suatu proses penemuan, diharapkan juga dapat mengubah tingkah laku, baik tingkah laku yang berkenaan dengan aspek afektif, kognitif, dan psikomotor (Trianto, 2011: 135). Dalam praktik pelaksanaan pembelajaran biologi pada tingkat SMA, masih banyak adanya kendala-kendala. Motivasi belajar dan prestasi belajar masih dibawah standar. Sebagian besar siswa cenderung beranggapan bahwa belajar biologi semata-mata hanya merupakan hapalan dan tidak bermakna sehingga siswa tidak termotivasi dalam belajar (Trisna Dewi, 2015: 2). Hasil observasi empirik di lapangan mengidentifikasikan pembelajaran Biologi melalui penemuan konsep kurang melibatkan peran aktif siswa, karena proses pembelajaran Biologi kurang memberdayakan siswa. Pelaksanaan pembelajaran masih cenderung bersifat konvensional yang didominasi dengan metode ceramah dan tanya jawab. Guru masih menggunakan model pembelajaran konvensional sebagai satu-satunya model pembelajaran khususnya dalam pembelajaran Biologi. Model yang biasa digunakan adalah metode ceramah, sehingga mengalami kesulitan dalam proses pengorganisasian terhadap pemecahan permasalahan yang ada dan sebagian besar siswa belajar hanya dengan hafalan yang berakibat belajar kurang bermakna dan hasil belajar Biologi yang rendah (dibawah batas KKM mata pelajaran Biologi).
Oleh karena itu pemerintah terus melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan IPA. Untuk meningkatkan proses pembelajaran guru seyognya berwawasan luas, mempunyai kreatifitas tinggi, ketrampilan metodelogi yang handal, rasa percaya diri yang tinggi, mau melakukan inovasi pembelajaran, mengemas dan mengembangkan materi. Secara akademik guru seyognya terus menggali informasi ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan materi yang diajarkan. Salah satu keterampilan yang harus dikuasai oleh guru dalam pembelajaran adalah mendesain pembelajaran yang kreatif, inovatif, bermakna dan menyenangkan.
Pembelajaran Biologi merupakan suatu proses penemuan dan menekankan pada pemberian pengalaman belajar secara langsung dengan mengembangkan keterampilan proses sains. Berpijak pada kenyataan tersebut, perlu dicari alternatif pembelajaran Biologi berbasis keterampilan proses sains. Model pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan salah satu model pembelajaran berbasis keterampilan proses sains, yang menempatkan siswa sebagai subjek belajar, sehingga pembelajaran lebih berpusat pada siswa (student centered learning). Penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing dalam pembelajaran Biologi sangat efektif untuk mengkonstruksi pengetahuan siswa melalui kegiatan penemuan. Keaktifan siswa untuk belajar ini mengakibatkan siswa mendapatkan pemahaman yang lebih baik akhirnya akan meningkatkan prestasi belajar. Hal ini sesuai dengan penelitian Rahmatsyah dan Simamora (2011) yang menyimpulkan ada pengaruh yang signifikan antara pengguasaan ketrampilan proses sains melalui pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar siswa.
Keberhasilan proses pembelajaran dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal. Salah satu faktor eksternal adalah model pembelajaran yang digunakan, sedangkan salah satu internal yang berpengaruh terhadap keberhasilan pembelajaran adalah motivasi berprestasi dalam diri siswa. Adanya motivasi berprestasi memberikan dorongan pada diri siswa untuk mencapai sukses dan menghindari kegagalan yang menimbulkan kecenderungan perilaku dengan berpedoman pada standar keunggulan yang telah ditetapkan (Nasir, et al., 2015). Pembelajaran yang berpusat pada siswa salah satu cirinya adalah pembelajaran yang dirancang guru dengan menciptakan situasi pembelajaran yang lebih banyak melibatkan siswa, sehingga siswa memperoleh banyak pengalaman dari hasil temuannya sendiri maka dapat berakibat ingatan siswa mengenai apa yang dipelajarinya akan bertahan lebih lama dan pengetahuan akan lebih luas, di samping itu juga menumbuhkan sifat kreatif pada diri siswa.
Prestasi belajar dapat dipandang sebagai suatu kemampuan yang dimiliki oleh siswa sehingga dapat diukur dan hasil pengukurannya berupa skor atau angka yang merupakan gambaran dari hasil proses pembelajaran. Seseorang dikatakan belajar apabila dalam diri orang itu terjadi suatu proses kegiatan yang menyebabkan suatu perubahan pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
Penelitian sebelumnya yang telah membuktikan keefektifan inkuiri terbimbing dalam pembelajaran Biologi dilaporkan oleh Surkirmarwati et al (2013), bahwa inkuiri terbimbing dapat meningkatkan kreativitas dan motivasi berprestasi siswa. Susanti (2014) melaporkan bahwa inkuiri terbimbing dapat meningkatkan hasil belajar biologi, dan Suardiantini (2014) menyatakan inkuiri terbimbing dapat meningkatkan minat belajar biologi siswa.
Berdasarkan uraian yang telah diungkapkan dalam latar belakang, maka peneliti mengajukan beberapa permasalahan yang menyangkut bagaimanapengauh penggunaan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar biologi siswa kelas X SMA Negeri 1 Rendang. Rumusan masalahnya adalah sebagai berikut. 1) Apakah terdapat perbedaan prestasi belajar biologi antara siswa yang belajar dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional? 2) Apakah terdapat perbedaan prestasi belajar biologi antara siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi dengan siswa yang mempunyai motivasi berprestasi rendah? 3) Apakah terdapat perbedaan prestasi belajar biologi sebagai akibat pengaruh interaktif antara model pembelajaran dengan motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar biologi siswa?
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah 1) Mendeskrifsikan perbedaan prestasi belajar biologi antara siswa yang belajar dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional. 2) Mendeskrifsikan perbedaan prestasi belajar biologi antara siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi dengan siswa yang mempunyai motivasi berprestasi rendah. 3) Mendeskrifsikan perbedaan prestasi belajar sebagai akibat dari pengaruh interaktif antara model pembelajaran dengan motivasi berprestasi siswa terhadap prestasi belajar biologi.
Penelitian ini mempunyai manfaat secara teoretis untuk mengkaji model pembelajaran inkuiri terbimbing dan motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar siswa, sehingga diharapkan hasil penelitian ini memperkaya kasanah pengetahuan di bidang pembelajaran. Secara praktis penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam hal prestasi belajar, khususnya mata pelajaran biologi di SMA Negeri 1 Rendang. Perangkat pembelajaran yang dihasilkan dalam penelitian ini dapat digunakan sebagai alternatif model pembelajaran bagi guru-guru bilogi untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep dan keterampilan proses sains. Bagi siswa penelitian ini bermanfaat untuk mengembangkan pengeatahuan secara bermakna sehingga dapat dijadikan bekal dalam memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

II. METODE PENELITIAN
Rancangan penelitian yang digunakan adalah non-equivaence pretest-posttest control group design. Populasi dalam penelitian ini adalah 8 kelas X SMA Negeri 1 Rendang Tahun Pelajaran 2015/2016, pada masing-masing kelas terdapat 30 orang siswa. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik random sederhana, untuk memilih 4 kelas sampel. Empat kelas yang terpilih sebagai sampel dirandom kembali untuk menetapkan dua kelas sebagai kelompok eksperimen yaitu kelas XC dan XG, dua kelas sebgai kelompok kontrol yaitu kelas XF dan XG.
Di awal penelitian sampel penelitian diberikan pretest secara keseluruhan setelah itu baru diberkan perlakuan bagi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, selanjutnya baru diadakan posttest untuk mengukur prestasi belajar biologi siswa.
Penelitian ini menyelidiki pengaruh dua variabel bebas terhadap satu variabel terikat dan satu variabel moderator. Variabel bebas dalam peneltian ini adalah model pembelajaran inkuiri terbimbing dan model pembelajaran konvensional. Sebagai variabel moderator adalah motivasi berprestasi, yang dipilah menjadi dua level yaitu motivasi berprestasi tinggi dan motivasi berprestasi rendah.Variabel terikat yang diteliti dalam penelitian ini adalah prestasi belajar biologi siswa.
Penelitian ini dilaksanakan dengan rincian kegiatan pada setiap tahap sebgai berikut. 1) Orientasi dan observasi terhadap rancangan danpelaksanaan belajar mengajar dikelas. 2) Menyusun instrumen berupa tes prestasi belajar. 3) Melakukan uji coba instrumen yang meliputi uji daya beda butir, tingkat kesukaran butir, dan reliabilitas tes. 4) Menyusun perangkat pembelajaran ( menyusun RPP dengan model inkuiri terbimbing dilengkapi dengan LKS dan model pembelajaran konvensional). 5) Implementasi perangkata pembelajaran dengan model inkuiri terbimbing dan model pembelajaran konvensional pada masing-masing kelompok kelas sampel yang terpilih dalam penelitian ini. 6) Evaluasi terhadap prestasi belajar biologi baik untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol.
Dalam penelitian ini, perlakuan diberikan oleh peneliti sendiri (guru bidang studi biologi) yang memiliki kualifikasi pendidikan sarjana S1 biologi. Perlakuan antara kelompok esperimen dan kelompok kontrol sama, kecuali model pembelajaran yang digunakan berbeda antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pada akhir penelitian kepada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol diberikan tes akhir (posttest) yang sama, yaitu tes pilihan ganda diperluas untuk mengukur prestasi belajar biologi siswa.
Instrumen penelitian berupa tes motivasi berprestasi dan tes prestasi belajar dikembangkan oleh peneliti. Sebelum instrumen ini digunakan maka dilakukan uji instrumen untuk mengetahui kualitas dari instrumen tersebut. uji instrumen yang dilakukan antara lain: uji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya beda.
Pada penelitian ini diajukan tiga hipotesis yang diklasifikasikan menjadi hipotesis pengaruh utama meurut model pembelajaran dan hipotesis pengaruh interaktif antara model pembelajaran dengan motivasi berprestasi. Pengujian hipotesis dijabarkan menjadi pengujian hipotesis nol (H0) melawan hipotesis alternative (H1). Untuk pengujian hipotesis digunakan uji F melalui ANACOVA dua jalur. Kriteria pengujian adalah jika Fhitung ≥ Ftabel, maka H0 ditolak berarti signifikan.

III.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh Nilai rata-rata awal dari prestasi belajar siswa yang belajar dengan model inkuiri terbimbing adalah M = 68,150 dengan SD = 8,341, sedangkan siswa yang belajar dengan model konvensional M = 63, 800 dengan SD = 9,533 Nilai rata-rata prestasi belajar akhir eksperimen untuk kelompok inkuiri terbimbing adalah M = 69,400 dengan SD = 8,682, sedangkan siswa yang belajar dengan model konvensional M = 65,750 dengan SD = 9,391. Data motivasi berprestasi siswa untuk kelompok model inkuiri terbimbing adalah M = 67,77 dengan standar deviasi = 3,926, sedangkan untuk kelompok model konvensional M 66,05 dengan SD = 5,03.
Uji asumsi yang harus dipenuhi dalam ANACOVA adalah data terdistribusi normal, varian dalam kelompok homogen, dan bemtuk regresi linier. Bertitik tolak dari kriteria pengujian hipotesis yang telah diuraikan diatas, diperoleh hasil uji hipotesis secra keseluruhan dengan menggunakan analisis kovarian faktorial 2×2 seperti yang disajikan pada Tabel 3.2





Tabel 3.2 Rangkuman Hasil Analisis Kovarian ( ANACOVA) faktorial 2× 2
Source Type III Sum of Square Df Mean Square F Sig
Corrected Model 6436,895a 4 1609,224 432,734 0,000
Intercept 21,258 1 21,258 5,716 0,019
Z 1673,195 1 1673,195 449,936 0,000
A 40,032 1 40,032 10,765 0,002
B 40,222 1 40,222 10,816 0,002
A * B 17,091 1 17,091 4,596 0,035
Error 278 75 3,719
Total 370676,000 80
Corected Total 6715,800 79


Berdasarkan Tabel 3.2 tampak bahwa nilai tes prestasi belajar awal (pretest) adalah Zhitung = 449,36 dengan p = 0,000 pada taraf signifikan 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa Fhitung > Ftabel =3,96. Dengan demikian terdapat perbedaan secara signifikan prestasi belajar awal (pretest) siswa dengan prestasi belajar akhir (posttest) siswa. Nilai F(A) hitung = 10,765 dengan p = 0.02 dan Ftabel = 3,96 pada taraf signifikansi 0,05. Hasil ini menunjukkan bahwa Fhitung > Ftabel. Oleh karena itu H0 ditolak dan H1 diterima. dengan demikian perbedaan yang signifikan antara model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan model pembelajaran konvensional.
Hasil penelitian ini mengindikasikan terdapat perbedaan secara signifikan prestasi belajar biologi siswa antara siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional. Berdasarkan nilai rata-rata yang diperoleh memperlihatkan bahwa nilai rata-rata prestasi belajar biologi siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing adalah M = 69,40 dengan SD 8,682 sedangkan nilai rata-rata prestasi belajar biologi siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional adalah M = 65,75, dengan SD = 9,391 Dengan demikian prestasi belajar biologi siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing secara signifikan lebih besar dibandingkan dengan prestasi belajar biologi yang mengikuti model pembelajaran konvensional.
Pada pembelajaran dengan model pembelajaran inquiri terbimbing, siswa diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen, diskusi, mengemukakan gagasan
lama atau baru untuk membangun pengetahuan-pengetahuan dalam pikirannya. Siswa belajar diawali melalui pertanyaan-pertanyaan atau hipotesa-hipotesa yang diberikan guru dan untuk menjawab pertanyaan/permasalahan atau juga hipotesa siswa merancang percobaan dan melakukan percobaan dan dari percobaan siswa mendapatkan atau menemukan pengetahuan untuk menguji pengetahuannya, guru
memberi petunjuk tentang sumber-sumber belajar atau kajian pustaka dan siswa melakukan analisis sumber-sumber belajar atau kajian pustaka serta menghubungkannya dengan hasil percobaannya tersebut, dan melalui membaca atau melalui kajian pustaka dengan penalarannya siswa menyusun struktur kognitifnya untuk membentuk pengetahuan yang baru. Jadi intinya siswa sendiri menemukan konsepnya sendiri melalui proses bimbingan oleh guru, sehingga konsep yang ditemukan diberikan penguatan sehingga akan tersimpan dalam memori jangka panjang siswa (Trisna Dewi, 2015)
Pada model pembelajaran konvensional pemebelajaran lebih berpusat pada guru, dimana guru memegang peranan penting dalam proses pembelajaran sehingga siswa menjadi pasif, kurang kreatif, dan tidak mampu mengembangkan ide-ide atau gagasan yang dimilikinya (Rarici, 2013).
Berdasarkan Tabel 3.2 Tampak bahwa nilai F(B) hitung = 10,8176 dengan p = 0,02 dan Ftabel = 3,96 pada taraf signifikansi 0,05. Hasil ini menunjukkan Fhitung =10,8176 > Ftabel=3,96, dengan demikian H0 ditolak dan H1 diterima berarti terdapat perbedaan yang signifikan prestasi belajar biologi pada siswa yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi dengan prestasi belajar biologi pada siswa yang mempunyai motivasi berprestasi rendah. dapat dilihat dari nilai rata-rata prestasi belajar biologi yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi adalah M = 74,98 dengan SD 4,2205, sedangkan nilai rata-rata prestasi belajar siswa yang mempunyai motivasi berprestasi rendah adalah 60,175 dengan SD = 5,663
Dengan demikian motivasi berprestasi berpengaruh terhadap prestasi belajar biologi siswa temuan ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sukimarwati, et al (2013) yang menyatakan motivasi berprestasi memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar kognitif, afektif dan psikomotorik.
Berdasarkan hasil analisis kovarian faktorial 2×2 didapat F AB hitung = 4,596 dan F AB tabel = 3,96. Karena F AB hitung > F AB tabel berarti H0 ditolak dan H1 diterima. Ini berarti ada interaksi yang signifikan antara model pembelajaran dengan motivasi berprestasi dalam pencapaian prestasi belajar. Berdasarkan hasil statistik rerata dengan dengan bantuan SPSS 17,0 Windows untuk prestasi belajar biologi diperoleh profil interaksi antara model pembelajaran dengan motivasi berprestasi, disajikan pada Gambar 3.1



Esensi dari pembelajaran inkuiri terbimbing adalah pertanyaan-pertanyaan tidak hanya membantu guru dalam menentukan apa ayang sudah diketahui siswa tetapi juga mendorong siswa lebih banyak belajar . Pertanyaan merupakan dasar bagi pembelajaran inkuiri terbimbing atau pembelajaran Kontruktivis (Carin,1997). Berkaitan dengan pertanyaan, Lawson (dalam Trisna Dewi, 2015) menyatakan bahwa agar guru-guru berhasil dalam pembelajaran mereka hendaknya menggunakan model inkuiri untuk membimbing siswa dan memberi arah dalam melakukan investigasi dan berfikir. Penelitian yang dilakukan oleh Marheni, et al (2014) dengan judul Studi komparasi model pembelajaran inkuiri terbimbing dan model pembelajaran inkuiri bebas terhadap hasil belajar dan keterampilan proses sains siswa pada pemebelajaran sains SMP. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang belajar dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan kelompok siswa yang belajar dengan model pembelajaran inkuiri bebas.
Penelitian yang dilakukan oleh Rizal (2014) dengan judul Pengaruh pembelajaran inkuiri terbimbing dengan multirepresentasi terhadap keterampilan proses sains dan penguasaan konsep siswa SMP. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan antara keterampilan proses sains dan penguasaan konsep IPA siswa dalam pembelajaran inkuiri terbimbing dengan multirepresentasi.
Penelitian yang dilakukan oleh Susanti (2014) dengan judul Pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar sains biologi siswa kelas VIII SMPN 1 Ngawen. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor.


IV. PENUTUP
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis seperti yang telah diuraikan dapat diambil beberapa simpulan sebagai berikut. Pertama, terdapat perbedaan prestasi belajar bilogi siswa antara siswa yang mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan siswa yang mengikuiti model pembelajaran konvensional dengan nilai FA = 10,765 dan taraf signifikansi p < 0,05. Model inkuiri terbimbing lebih unggul dibandingkan dengan model konvensional dalam pencapaian prestasi belajar. Kedua terdapat perbedan prestasi belajar biologi siswa antara sisw yang mempunyai motivasi berprestasi tinggi yang mengikuti model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan siswa yang mempunyai motivasi berprestasi rendah yang mengikuti model pembelajaran konvensional dengan nilai FB = 10,816 dan taraf signifikansi p < 0,05. Dalam pencapaian prestasi belajar siswa dengan Motivasi berprestasi tinggi lebih unggul dibandingkan dengan siswa motivasi berprestasi rendah. Ketiga Terdapat pengaruh interkaif antara model pembelajaran dengan motivasi berprestasi dengan nilai F AB = 4,596 dan taraf signifinasi p < 0,05. Interaksi baik model inkuiri terbimbing maupun model konvensional berinteraksi kuat dengan motivasi berprestasi tinggi terhadap pencapaian prestasi belajar .


Berdasarkan temuan-temuan dan simpulan dalam penelitian ini dikemukakan beberapa saran sebagai berikut. 1) Model pembelajaran inkuiri terbimbing perlu diperkenalkan pada guru bidang studi sebagai model alternatif melalui kegiatan-kegiatan seminar, pelatihan-pelatihan maupun dalam pertemuan MGMP. 2) Kepada rekan-rekan guru khususnya yang mengajar bidan studi biologi, disarankan untuk mencoba mengimplementasikan model pembelajaran inkuiri terbimbing, karena berdasarkan hasil penelitian model pembelajaran ini telah terbukti mampu meningkatkan prestasi belajar biologi menjadi lebih tinggi jika dibandingkan dengan siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model pembelajaran konvensional. 3) Sedangkan untuk siswa yang memilki motivasi berprestasi rendah, perlu diadakan pelatihan-pelatihan untuk dapat meningkatkan motivasi berprestasi siswa..

DARTAR PUSTAK

Badan Standar Nasional Pendidikan (BNSP). 2006. Standar isi dan standar kompetensi lulusan tingkat sekolah menengah atas dan madrasah aliyah (Peraturan Mentri Pendidikan Nasional No 22 dan 23 Tahun 2006). Jakarta: PT Bina Tama Raya

Marheni, N. P., Muderawan, I W., & Tika, I N. 2014. Studi komparasi model pembelajaran inkuiri terbimbing dan model pembelajaran inkuiri bebas terhadap hasil belajar dan keterampilan proses sains siswa pada pembelajaran sains SMP. e-Journal Program Pascasarjana Universitas Pendidikan Ganesha. 4.Tersedia pada download. portalgaruda. org/article.php? Diakses 15 September 2015.

Susanti. 2014. Pengaruh model pembelajaran inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar sains biologi siswa kelas VIII SMPN 1 Ngawen. Skripsi. (tidak diterbitkan) Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tersedia pada digilib.uin.suka.ac.id/11051/ Diakses 15 September 2015.

Suardiantini, N. P. N. 2014. Pengaruh penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing (Guided Inquiri) divariasikan dengan media mind mapping terhadap minat belajar biologi siswa kelas VII SMP PGRI 4 Denpasar tahun pelajaran 2013/2014. Sripsi. (tidak diterbitkan). Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Maha Saraswati Denpasar. Tersedia pada unmas-library.ac.id/ .../skripsi-url.pd... Diakses pada 15 September 2015.

Sukimarwati, J., Sunarno, W., & Sugiyarto. 2013. Pembelajaran biologi dengan guided inquiry model menggunakan LKS terbimbing dan LKS bebas termodifikasi ditinjau dari kreativitasdan motivasi berprestasi siswa, Jurnal Inkuiri. 2(2): 154-162. Tersedia pada http:// jurna.fkip.uns.ac.id/ index.php/ sains. Diakses 15 September 2015.

Simamora, A. H. 2012. Pengaruh model pembelajaran berbasis masalah dan motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar IPS siswa kelas VIII SMP Negeri 2 Singaraja. Tesis (tidak diterbitkan). Universitas Pendidikan Ganesha

Trisna Dewi, I. A. N. 2015. Komparasi model pembelajaran inkuiri terbimbing dan group investigation (GI) untuk meningkatkan motivasi belajar dan prestasi belajar biologi siswa kelas X di SMA Negeri 1 Susut Bangli. Tesis (tidak diterbitkan). Program Pascasarjana UNDIKSHA.

Kata Kunci : Kata Kunci: Model Pembelajaran, Motivasi Berprestasi, Prestasi Belajar Biologi

The aim this research is to describe the influence of learning model and prestated motivation toward biologi learning prestation. This research is experiment research which use non equivalence pretest-posttest control group designe. Free variable in this research is learning model, is classified into two levels, those are consulting inquiry learning model which is treated to the experiment group and convensional learning model which is treated to the control group, how ever prestated motivation as moderator variable, is also classified in to two levels those are high prestated motivation and low prestitation. Quisioneer instreument of prestated motivation is used to measure the students prestated motivation level, but pretest of biologi learning is used to measure prestation of the students biologi learning. This analysis data by using covarians analysis (ANACOVA) factorial 2 ×2 and continued with Tukey examination. The result of the research showed that (1) commonly, the prestation of the student learning biologi who joined consulting inquiry learning model is defferent significantly with the students who joined convensional learning model, (Fobserved = 10,765; p < 0,05. The consulting inquiry model is better than convensional model, (2) the is differentiat significantly between the prestation of the students learning biologi who as high prestated motivation to the prestation of the student learning biologi who has low prestated motivation, with (Fobserved = 10,816; p < 0,05). The students who have high prestated motivation are better than the students who have low prestated motivation, (3) there is interactively influence significantly between learning model and prestated motivation toward the students prestated learning, (FAB observed = 4,596; p < 0,05. So that the interaction occurred between the students who have high prestated motivation by learning on consulting inquiry learning model are better than the student who learn on convensional model. and the interaction occurred between the students who have low prestated motivation by learning on consulting inquiry learning model are better than the student who learn on convensional model.
keyword : Key word: Learning model, Prestated Motivation, Biologi Learning Prestation

Full Text:

PDF


DOI: https://doi.org/10.23887/jtpi.v7i2.1994

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Jurnal ini diterbitkan oleh :

Universitas Pendidikan Ganesha


Creative Commons License

Jurnal Teknologi Pembelajaran Indonesia is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Jurnal Teknologi Pembelajaran Indonesia indexed by: